Para Salaf Rindu Ramadan 6 Bulan… dan Menangisinya 6 Bulan Lagi
بــــــــسم الله الرحمن الرحيم,وبه نستعين
الحمدلله وصلى الله سبحانه وبحمده على سيدنامحمد الأمي و آله وصحبه أجمعين
Ini dalilnya, dan ini batas bulannya
Di zaman kita hari ini, Ramadan sering datang seperti musim.
Begitu masuk, orang ramai bicara tentang puasa, tarawih, ngabuburit, buka bersama, sahur, dan berbagai konten religi. Suasana masjid hidup, mushaf kembali dibuka, doa-doa terasa lebih hangat, dan hati seakan lebih dekat kepada Allah.
Tapi setelah Ramadan pergi, suasana itu sering sekali cepat pudar.
Masjid mulai longgar.
Mushaf mulai jarang dibuka.
Doa-doa mulai pendek.
Dan hati perlahan kembali sibuk dengan dunia.
Padahal, bagi generasi terbaik umat ini, Ramadan bukan sekadar bulan yang lewat. Ramadan adalah titik pusat hidup mereka. Bukan hanya ditunggu saat sudah dekat, tetapi dirindukan jauh-jauh hari, lalu ditangisi panjang setelah berlalu.
Karena itu, ada satu ungkapan salaf yang sangat terkenal dan begitu dalam maknanya:
كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمُ رَمَضَانَ،
ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
“Mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan, lalu mereka berdoa selama enam bulan lagi agar Ramadan mereka diterima.”
Kalimat ini sangat masyhur dibawakan para ulama sebagai atsar salaf, bukan hadits Nabi ﷺ. Maka yang lebih aman adalah mengatakan: “para salaf” atau “sebagian salaf”, bukan memastikannya sebagai ucapan seluruh sahabat Nabi.
Dan justru di situlah letak tamparannya untuk kita semua:
mereka bukan hanya sibuk menunggu Ramadan datang, tetapi juga sibuk takut kalau amal Ramadan mereka tidak diterima.
Bukan Sekadar “Ingin Bertemu Ramadan”
Banyak dari kita mengira bahwa keberhasilan seorang Muslim itu cukup dengan bertemu Ramadan.
Padahal, belum tentu.
Sebab, bertemu Ramadan itu nikmat,
tetapi diterimanya amal di dalam Ramadan itu tujuan.
Kita bisa saja:
berpuasa, tapi lisannya masih kasar,
tarawih, tapi hatinya masih lalai,
tilawah, tapi tidak menyentuh perilaku,
sedekah, tapi masih penuh riya,
bangga telah “menyelesaikan Ramadan”, padahal belum tentu Ramadan itu benar-benar mengubah kita.
Karena itu, para salaf tidak berhenti pada rasa senang karena “sudah Ramadan”. Mereka justru takut setelahnya.
Takut puasanya kurang ikhlas.
Takut qiyamnya banyak bolong.
Takut tilawahnya hanya suara, bukan cahaya.
Takut seluruh lelah ibadah itu ternyata tidak naik sebagai amal yang diterima.
Inilah yang sering hilang dari diri kita:
Kita terlalu cepat merasa sudah baik, sementara orang-orang saleh justru banyak menangis atas amalnya.
Dalil Tentang Takut Amal Tidak Diterima.
Salah satu pelajaran besar dalam Islam adalah:
Orang saleh tidak hanya rajin beramal, tetapi juga takut amalnya ditolak.
Lihat doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam ketika membangun Ka‘bah. Padahal mereka sedang melakukan amal yang sangat agung. Namun setelah beramal, yang keluar dari lisan mereka bukan rasa bangga, tetapi rasa takut dan harap:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 127)
Perhatikan baik-baik.
Mereka sedang membangun Ka‘bah, bukan amal biasa. Tapi tetap yang mereka minta adalah:
“Ya Allah, terimalah.”
Artinya, amal sebesar apa pun tetap belum aman sampai Allah menerimanya.
Maka kalau Nabi Ibrahim saja takut amalnya tidak diterima, apalagi kita yang ibadahnya masih jauh dari khusyuk, masih sering telat, dan masih sering setengah hati?
Mengapa Para Salaf Sampai Rindu Ramadan 6 Bulan?
Karena mereka tahu nilai Ramadan.
Ramadan bukan sekadar:
bulan lapar dan haus,
bulan takjil,
bulan ramai masjid,
atau bulan yang “vibes”-nya religius.
Ramadan adalah:
bulan ampunan,
bulan Al-Qur’an,
bulan latihan takwa,
bulan pemurnian hati,
dan bulan di mana pintu-pintu kebaikan dibuka lebar.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Jadi target Ramadan itu bukan cuma “berhasil puasa sebulan”.
Target utamanya adalah: takwa.
Karena itu, orang yang benar-benar paham Ramadan tidak akan menganggapnya sebagai acara tahunan biasa. Ia akan melihat Ramadan seperti tamu agung yang bisa mengubah hidupnya.
Maka wajar jika para salaf memohon berbulan-bulan agar dipertemukan dengannya.
Apa Maksud “6 Bulan Sebelum Ramadan”?
Nah, ini bagian yang sering ditanyakan:
“Enam bulan itu dari bulan apa sampai bulan apa?”
Secara hitungan kalender Hijriah, jika Ramadan adalah bulan ke-9, maka “enam bulan sebelum Ramadan” dipahami sebagai rentang setengah tahun menuju Ramadan.
Urutan bulan Hijriah adalah:
Muharram
- Safar
- Rabi‘ul Awwal
- Rabi‘ul Akhir
- Jumādā al-Ūlā
- Jumādā al-Ākhirah
- Rajab
- Sya‘ban
- Ramadan
- Syawal
- Dzulqa‘dah
- Dzulhijjah
Bulan ke-6 Hijriah: Awal Rindu Itu Dimulai
Kalau ditanya, “di mana batas awal rindu itu?”, maka secara narasi ruhani yang indah dan mudah dipahami:
Batas rindu itu mulai terasa sejak bulan ke-6 Hijriah
Yaitu: Jumādā al-Ākhirah
(atau yang lebih familiar kita sebut: Jumadil Akhir)
Kenapa ini menarik?
Karena dari titik itu, hati seorang mukmin seakan mulai berkata:
“Sebentar lagi Rajab…
lalu Sya‘ban…
lalu Ramadan.”
Maka secara ruhani, bulan ke-6 Hijriah adalah awal kesadaran bahwa Ramadan sedang mendekat.
Sedangkan Sya‘ban menjadi pintu terakhir sebelum masuk ke Ramadan.
Dan di sinilah kita mulai paham mengapa para salaf sangat serius di bulan Sya‘ban.
Mengapa Sya‘ban Sangat Penting?
Karena ada hadits yang sangat terkenal tentang bulan Sya‘ban. Ketika Usāmah bin Zaid radhiyallahu ‘anhumā bertanya mengapa Nabi ﷺ banyak berpuasa di bulan itu, beliau menjawab:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan. Dan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam. Maka aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.”
Ini luar biasa.
Artinya, sebelum Ramadan datang, ada bulan pemanasan ruhani bernama Sya‘ban.
Di situlah:
niat dibenahi,
puasa sunnah dibiasakan,
hati dibersihkan,
dan amal diangkat.
Kalau ingin ditulis dengan bahasa yang indah, maka begini:
Bulan ke-6 Hijriah adalah awal rindu,
Rajab adalah alarm jiwa,
Sya‘ban adalah ruang persiapan,
dan Ramadan adalah musim panen iman.
Lalu, Apa Maksud “6 Bulan Lagi Setelah Ramadan”?
Ini juga sangat dalam.
Setelah Ramadan selesai, kita sering merasa:
“Alhamdulillah, tugas selesai.”
Padahal bagi para salaf, setelah Ramadan justru muncul pertanyaan yang jauh lebih berat:
“Apakah Allah menerima semua itu?”
Maka “6 bulan setelah Ramadan” bukan sekadar angka, tetapi simbol panjangnya rasa takut dan harap.
Secara umum, rentang setelah Ramadan itu dimulai dari:
Syawal
- Dzulqa‘dah
- Dzulhijjah
- Muharram
- Safar
- Rabi‘ul Awwal
Artinya, setengah tahun setelah Ramadan pun hati mereka masih terhubung dengan Ramadan.
Bayangkan itu.
Kita kadang tiga hari setelah Idul Fitri saja sudah kembali biasa.
Tapi mereka enam bulan masih hidup dalam satu doa:
“Ya Allah, terimalah Ramadan kami.”
Ini menunjukkan satu hal besar:
Orang yang mengenal nilai amal tidak cepat merasa aman dengan amalnya.
Ciri Orang yang Benar-Benar “Kena” Ramadan
Kalau Ramadan benar-benar menyentuh hati seseorang, biasanya akan ada bekasnya.
Bukan hanya capeknya.
Bukan hanya kenangannya.
Tapi bekas ibadahnya.
Tandanya antara lain:
1. Shalatnya lebih terjaga
Ia tidak lagi enteng meninggalkan jamaah, atau menunda-nunda waktu.
2. Hubungannya dengan Al-Qur’an tidak putus
Mungkin tidak sebanyak Ramadan, tapi tidak berhenti total.
3. Dosanya mulai ia benci
Bukan karena takut citra rusak, tapi karena ia merasa malu kepada Allah.
4. Ia mulai rindu suasana ibadah
Bukan hanya rindu ketupat atau takjil, tapi rindu ketenangan hati saat taat.
5. Ia sering takut amalnya tertolak
Bukan minder berlebihan, tapi punya rasa khawatir yang sehat.
Dan justru rasa takut seperti ini adalah tanda iman.
Karena orang yang terlalu santai terhadap amalnya, sering kali belum benar-benar paham siapa Rabb yang sedang ia tuju.
Masalah Kita Hari Ini: Terlalu Cepat Puas
Ini yang perlu kita jujuri.
Kita sering:
bangga sudah khatam sekali,
bangga sudah tarawih penuh,
bangga sudah puasa sebulan,
bangga sudah bikin konten religi,
bangga sudah “ikut suasana Ramadan”.
Padahal para salaf tidak hidup dengan pola:
“Yang penting sudah.”
Mereka hidup dengan pola:
“Apakah Allah ridha?”
Itulah sebabnya mereka menangis setelah Ramadan.
Bukan karena romantis.
Bukan karena puitis.
Tapi karena mereka tahu satu hal yang sangat besar:
Tidak semua amal yang dikerjakan, otomatis diterima.
Dan ini harus membuat kita lebih rendah hati.
Apa yang Harus Kita Lakukan Sekarang?
Kalau kita ingin meniru semangat para salaf, tidak harus langsung muluk-muluk. Mulailah dari yang sederhana, tapi jujur.
1. Biasakan doa sebelum Ramadan
Jangan tunggu Ramadan tinggal hitungan hari.
Mulailah dari sekarang.
Doa sederhana seperti:
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadan.”
Dan yang lebih lengkap:
اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا إِلَى رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لَنَا رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, sampaikan kami kepada Ramadan, selamatkan Ramadan untuk kami, dan terimalah ia dari kami.”
2. Mulai serius sejak bulan ke-6 Hijriah
Jangan tunggu Ramadan mepet.
Begitu masuk Jumadil Akhir, bangunkan hati.
Masuk Rajab, kurangi lalai.
Masuk Sya‘ban, mulai latihan.
3. Jangan putus ibadah setelah Ramadan
Kalau setelah Ramadan semua kembali nol, berarti ada yang belum selesai di hati kita.
4. Banyak minta diterima
Setelah ibadah, biasakan tutup dengan doa penerimaan:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Doa ini pendek, tapi mendalam , berdampak besar, menurut Al Faqir Termasuk Jawamiu'l kalim
Penutup: Jangan Hanya Menunggu Ramadan, Tapi Rindukan dan Tangisi
Akhirnya, kita harus jujur pada diri sendiri.
Apakah selama ini kita benar-benar merindukan Ramadan?
Atau hanya menyukai suasananya?
Apakah kita benar-benar takut amal kita tertolak?
Atau hanya senang dianggap religius saat Ramadan?
Kalimat salaf tadi seharusnya tidak hanya kita jadikan quote yang indah, tetapi juga cermin:
كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمُ رَمَضَانَ،
ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
Mereka menunggu Ramadan setengah tahun.
Lalu mereka menangisinya setengah tahun lagi.
Artinya, bagi mereka, Ramadan bukan sekadar bulan.
Ramadan adalah poros kehidupan ruhani.
Dan mungkin, masalah terbesar kita hari ini bukan karena Ramadan kurang mulia.
Tapi karena hati kita belum cukup sadar siapa tamu agung yang sedang datang dan pergi setiap tahun.
Maka jika kita belum bisa seperti para salaf, minimal jangan sampai kita menjadi orang yang:
tidak benar-benar menanti Ramadan,
tidak sungguh-sungguh beribadah saat Ramadan,
dan tidak peduli apakah Ramadan itu diterima atau tidak.
Sebab bisa jadi…
Air mata setelah Ramadan jauh lebih berharga daripada gegap gempita saat Ramadan.
Kalimat Penutup
**“Bulan ke-6 Hijriah adalah awal rindu.
Sya‘ban adalah ruang persiapan.
Ramadan adalah musim ibadah.
Dan enam bulan setelahnya adalah masa menunggu:
apakah semua itu diterima di sisi Allah?”**
Ahmad Hikam Suni
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد بعدد حروف كلام الله، وصل وسلم عليه وآله في أول الكلام وأوسطه وآخره،اللهم آته الوسيلة والفضيلة برحمتك ياأرحم الراحمين


Komentar
Posting Komentar
Silahkan Tanggapi ! Bebas Sopan.....