"Minal ‘Āidīn wal Fā’izīn” Sering Diucapkan Saat Idul Fitri — Tapi Siapa yang Sebenarnya Paling Layak Mengucapkannya?

بــــــــسم الله الرحمن الرحيم,وبه نستعين الحمدلله وصلى الله سبحانه وبحمده على سيدنامحمد الأمي و آله وصحبه أجمعين

Setiap datangnya hari raya Idul Fitri, kaum muslimin saling mengucapkan:
“Minal ‘Āidīn wal Fā’izīn.”
Ucapan ini sudah sangat familiar di tengah masyarakat. Hampir setiap orang mengucapkannya ketika bertemu keluarga, tetangga, dan sahabat.

Kalimat ini mengandung doa yang sangat indah.
Maknanya adalah:
“Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan.”
Namun ada satu pertanyaan penting:
Siapa sebenarnya yang paling layak mengucapkan kalimat ini?
Karena kemenangan Idul Fitri bukan sekadar datangnya hari raya, tetapi kemenangan setelah melewati perjuangan ibadah di bulan Ramadhan.
Para ulama menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga golongan yang paling layak mengucapkannya : 
1. Orang yang Bersungguh-sungguh dalam Ibadah Ramadhan
Orang yang paling layak mengucapkan “Minal ‘Āidīn wal Fā’izīn” adalah mereka yang benar-benar berjuang dalam ibadah selama Ramadhan.
Mereka berpuasa dengan penuh kesungguhan, memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menahan diri dari dosa.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, orang yang telah bersungguh-sungguh dalam ibadah Ramadhanlah yang paling pantas merasakan kemenangan di hari raya.

Setelah mencoba bermuhasabah untuk bagian pertama ini, – rasanya–  penulis sendiri atau mungkin sebagian kita merasa "tidak lulus" dalam ramadhan ini ,Banyak malasnya, waktu yang tersia- sia , jauh dari kata " Sungguh - sungguh.

Namun begitu ,masih ada harapan , perhatikan nomor 2 berikut ini, mari kita membacanya dengan pelan - pelan ! 

2. Orang yang Berharap Amalnya Diterima oleh Allah
Orang beriman tidak pernah merasa bangga dengan amalnya.
Justru setelah beribadah, mereka dipenuhi rasa takut dan harap: takut amalnya ditolak dan berharap Allah menerimanya.
Allah menggambarkan sifat orang beriman dalam Al-Qur’an:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan (beramal), sedangkan hati mereka takut karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”
(QS. Al-Mu’minun: 60)

Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ayat ini.
Beliau menjawab:
هُمُ الَّذِينَ يُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ
“Mereka adalah orang-orang yang shalat, berpuasa, dan bersedekah, namun mereka takut amal mereka tidak diterima.”
(HR. Tirmidzi)

Inilah sifat para salaf.
Disebutkan bahwa para sahabat Nabi:
كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، وَيَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
“Mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan setelahnya agar amal Ramadhan mereka diterima.”
(Diriwayatkan dari sebagian salaf)

Karena itu, orang yang berharap amalnya diterima oleh Allah adalah orang yang paling layak mengucapkan doa kemenangan di hari raya.
Pada bagian kedua ini rasanya setiap kita bisa melakukannya, sangat ringan tinggal perbaiki hati dan Arahkan hati kita masing-masing, kemungkinan besar kita bisa melakukannya , di posisi di nomor 2 inilah yang membuat kita lebih enak percaya diri untuk mengucapkan Minal aidin wal faizin, Alhamdulillah,  selanjutnya...

3. Orang yang Mendoakan Kebaikan bagi Sesama Muslim
Ucapan “Minal ‘Āidīn wal Fā’izīn” pada hakikatnya adalah doa.
Orang yang mengucapkannya berarti mendoakan kebaikan bagi saudaranya.
Nabi ﷺ bersabda:
دَعْوَةُ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab.”
(HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, ketika seorang muslim berkata:
“Minal ‘Āidīn wal Fā’izīn.”
Ia sebenarnya sedang mendoakan:
Semoga saudaranya termasuk orang yang kembali kepada ketaatan
Semoga saudaranya termasuk orang yang mendapatkan kemenangan dan ampunan

Pada bagian 1 dan bagian nomor 2 ini sangatlah ringan, Insya Allah setiap kita bisa melakukannya, walaupun pada waktu di bulan Ramadan kita tidak benar-benar tidak menjaga Ramadan baik waktu, amal ,kekhusyuuan dsb dengan semestinya.

Penutup
Ucapan “Minal ‘Āidīn wal Fā’izīn” bukan sekadar tradisi Idul Fitri.
• Ia adalah doa yang agung dan penuh makna.
• Yang paling layak mengucapkannya adalah:
Orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah Ramadhan
Orang yang berharap amalnya diterima oleh Allah
Orang yang mendoakan kebaikan bagi sesama muslim
Semoga kita semua termasuk golongan yang benar-benar kembali kepada fitrah dan mendapatkan kemenangan.
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.”

Hikam_
 اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد بعدد حروف كلام الله، وصل وسلم عليه وآله في أول الكلام وأوسطه وآخره،اللهم آته الوسيلة والفضيلة برحمتك ياأرحم الراحمين

Komentar

Postingan Populer