Fitrah Adalah: Hakikat Asli Manusia yang Suci dan Cenderung kepada Kebenaran

 بــــــــسم الله الرحمن الرحيم 



Pendahuluan

Sering kita dengar istilah “kembali ke fitrah”, terutama saat Idul Fitri. Tapi sebenarnya, apa itu fitrah?

Apakah sekadar “suci kembali”, atau ada makna yang lebih dalam?

Jawabannya: fitrah adalah keadaan asli manusia saat diciptakan oleh Allah—bersih, lurus, dan cenderung kepada kebenaran (tauhid).

Makna Fitrah Secara Bahasa dan Istilah

Secara bahasa, fitrah berasal dari kata:

فَطَرَ – يَفْطُرُ – فِطْرَةً

yang berarti: menciptakan dari awal, tanpa contoh sebelumnya.

Dalam Al-Qur’an:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia di atasnya.”

(QS. Ar-Rum: 30)

Makna istilah (ringkas):

Fitrah adalah potensi dasar manusia untuk mengenal Allah, mencintai kebaikan, dan menerima kebenaran.

Dalil Hadits (Pondasi Utama)

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

Setiap anak dilahirkan di atas fitrah…”

(HR. Bukhari & Muslim)

Lanjutan hadits:

“Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Makna hadits (bahasa awam):

Bayi lahir itu tidak membawa dosa

Hatinya bersih dan siap menerima kebenaran

Tapi lingkunganlah yang membentuknya nanti

Penjelasan Ulama (Kitab Kuning)

1. Imam An-Nawawi (Syarah Shahih Muslim)

Beliau menjelaskan:

المراد بالفطرة هنا الإسلام

Yang dimaksud fitrah di sini adalah Islam.”

Makna awam: Fitrah itu bukan sekadar “baik”, tapi condong kepada Islam (tauhid).

2. Ibnu Hajar Al-Asqalani (Fathul Bari)

Beliau berkata:

المراد أنه يولد متهيئًا لقبول الحق

“Artinya: manusia lahir dalam keadaan siap menerima kebenaran.”

Makna awam: Hati manusia itu dari awal sudah punya ‘settingan iman’, tinggal diarahkan.

3. Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumuddin)

Beliau menjelaskan bahwa hati manusia:

Seperti tanah kosong yang siap ditanami

Makna awam:

Kalau ditanam kebaikan → tumbuh kebaikan

Kalau ditanam keburukan → tumbuh keburukan

Ciri-Ciri Fitrah Manusia

1. Mengenal Tuhan (Tauhid)

Secara naluri, manusia:

Butuh Tuhan

Cenderung berdoa saat terdesak

➡️ Bahkan orang yang jauh dari agama pun, saat susah sering ingat Tuhan.

2. Mencintai Kebaikan

Contoh sederhana:

Senang kejujuran

Benci kezaliman

➡️ Ini bukan diajarkan sepenuhnya, tapi sudah ada dalam hati.

3. Tidak Nyaman dengan Dosa

Kalau fitrah masih hidup:

Habis maksiat → gelisah

Habis bohong → tidak tenang

➡️ Itu tanda fitrah masih bekerja.

Apa yang Merusak Fitrah?

Hadits tadi sudah menjawab:

“Orang tuanyalah yang menjadikannya…”

Artinya, yang merusak fitrah:

Lingkungan

Pendidikan yang salah

Kebiasaan dosa

Pergaulan

Bahasa awamnya:

Fitrah itu bersih, tapi bisa “kotor” karena pengaruh luar.

Apakah Fitrah Bisa Kembali?

Jawabannya: Bisa.

Inilah makna Idul Fitri: ➡️ Bukan sekadar baju baru

➡️ Tapi kembali ke keadaan hati yang bersih

Cara kembali ke fitrah:

• Taubat

• Ilmu

• Lingkungan baik

• Ibadah yang istiqamah

Kesimpulan Tajam

Fitrah adalah bawaan lahir, bukan hasil belajar

Manusia sejak lahir sudah:

mengenal Allah (secara potensi)

mencintai kebaikan

Tapi:

bisa rusak karena lingkungan

bisa kembali dengan taubat

Kalimat penutup khas:

Manusia itu tidak perlu diajari menjadi baik—cukup dikembalikan ke fitrahnya.

_Ahmad Hikam Suni_

Komentar

Postingan Populer