TERNYATA! NAMA ASLI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ ADALAH ABDULLAH! 📚 TERBUKTI DALAM 4 REDAKSI KITAB KUNING

 
،بــــــــسم الله الرحمن الرحيم,وبه نستعين الحمدلله 
 اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد بعدد حروف كلام الله، وصل وسلم عليه وآله في أول الكلام وأوسطه وآخره،اللهم آته الوسيلة والفضيلة برحمتك ياأرحم الراحمين

Kajian Ringan | Menelusuri nama asli sahabat teragung setelah Rasulullah ﷺ melalui literatur ulama.

Pernahkah kita bertanya, mengapa sahabat Nabi ﷺ yang paling utama dikenal dengan nama Abu Bakar, padahal dalam kitab-kitab sejarah Islam beliau juga disebut dengan nama Abdullah?

Nama Abu Bakar begitu akrab di telinga kita. Sejak kecil, kita mengenal beliau sebagai sahabat setia Rasulullah ﷺ, orang yang menemani hijrah, membenarkan peristiwa Isra Mikraj, dan menjadi khalifah pertama setelah wafatnya Nabi ﷺ.

Namun, ada satu hal menarik yang layak kita telusuri: siapakah nama beliau sebenarnya?

Dalam literatur klasik Islam, nama beliau dikenal sebagai عبد الله بن أبي قحافة — Abdullah bin Abi Quhafah. Adapun Abu Bakar merupakan nama panggilan yang sangat masyhur, sedangkan Ash-Shiddiq adalah gelar yang melekat pada diri beliau.

Untuk memahami hal ini, mari kita membuka lembaran kitab-kitab ulama. Bukan sekadar mengetahui sebuah nama, melainkan juga belajar bagaimana tradisi keilmuan Islam menjaga riwayat dan mengenalkan tokoh-tokoh besar umat ini.

'Ibarah pertama: Kitab Al-Istī‘āb fī Ma‘rifatil Aṣḥāb
Karya Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله (w. 463 H), jilid 3, hlm. 964 pada edisi yang ditampilkan di sumber digital.
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي قُحَافَةَ، أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.

Terjemahannya : 
“Abdullah bin Abi Quhafah, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga Allah meridai keduanya.”

Perhatikan susunan kalimatnya. Ibnu Abdil Barr menyebut nama Abdullah bin Abi Quhafah, lalu menjelaskan bahwa beliau adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Jadi, dalam redaksi ini, nama Abdullah dan nama Abu Bakar menunjuk kepada satu orang yang sama. Ini bukan dua tokoh yang berbeda.

Menariknya, nama ayah beliau adalah Abu Quhafah, yang nama aslinya Utsman bin Amir. Karena itu, penyebutan bin Abi Quhafah merupakan penyandaran kepada kunyah ayahnya.

'Ibaroh kedua: Kitab Sirah A‘lām an-Nubalā’

Karya Imam Adz-Dzahabi رحمه الله (w. 748 H), jilid 28, hlm. 7 pada edisi digital yang dirujuk.
اسْمُهُ عَبْدُ اللَّهِ، وَيُقَالُ عَتِيقُ بْنُ أَبِي قُحَافَةَ عُثْمَانَ بْنِ عَامِرٍ.
Terjemahannya
“Nama beliau adalah Abdullah. Ada pula yang menyebutnya ‘Atiq bin Abi Quhafah, Utsman bin Amir.”

Redaksi ini memberi pelajaran penting: kitab-kitab biografi terkadang menghimpun lebih dari satu riwayat mengenai nama atau sebutan seorang tokoh.

Adz-Dzahabi menyebut nama Abdullah, sekaligus mencatat adanya penyebutan ‘Atiq. Maka, ketika kita membaca kitab tarajim, kita tidak cukup hanya menemukan satu nama; kita juga perlu memperhatikan bagaimana penulis menyampaikan variasi riwayatnya.

'Ibarah ketiga: Kitab Asad al-Ghābah fī Ma‘rifat aṣ-Ṣaḥābah
Karya Imam Ibnul Atsir رحمه الله (w. 630 H), biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq.
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ عَامِرِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ كَعْبٍ ... أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ بْنُ أَبِي قُحَافَةَ.
Terjemahan
“Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka‘b ... Abu Bakar Ash-Shiddiq bin Abi Quhafah.”

Di sini kita menemukan bentuk nasab yang lebih panjang: Abdullah bin Utsman bin Amir.

Lalu mengapa pada kitab pertama tertulis Abdullah bin Abi Quhafah?

Sebab, Abu Quhafah adalah kunyah ayah beliau, sedangkan nama ayahnya adalah Utsman bin Amir. Dengan demikian, kedua redaksi tersebut tidak bertentangan dalam penyebutan identitas ayah Abu Bakar.

Perbedaan ini justru memperlihatkan kekayaan cara penulisan nasab dalam tradisi Arab: seseorang dapat dinisbatkan melalui nama ayahnya atau melalui kunyah ayahnya.

'Ibarah  keempat: Kitab Tārīkh al-Khulafā’
Karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi رحمه الله (w. 911 H), bagian biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq.

أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ خَلِيفَةُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، اسْمُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي قُحَافَةَ عُثْمَانُ بْنُ عَامِرٍ.
Terjemahan
“Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah Rasulullah ﷺ, nama beliau adalah Abdullah bin Abi Quhafah, Utsman bin Amir.”

Redaksi As-Suyuthi ini merangkum persoalan yang sedang kita bahas. Beliau menyebut kedudukan Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah ﷺ, kemudian menerangkan nama dan nasabnya.

Dengan demikian, penyebutan Abdullah bin Abi Quhafah bukan sekadar informasi yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari tradisi penulisan sejarah dan biografi para sahabat yang diwariskan oleh para ulama.

Lantas, apakah nama beliau sejak lahir memang Abdullah?

Di sinilah kita perlu sedikit lebih teliti.

Dalam kitab Al-Istī‘āb, Ibnu Abdil Barr juga menyebutkan:

> كَانَ اسْمُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ عَبْدَ الْكَعْبَةِ، فَسَمَّاهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَبْدَ اللَّهِ.
“Nama beliau pada masa jahiliah adalah Abd al-Ka‘bah, kemudian Rasulullah ﷺ menamainya Abdullah.”

Akan tetapi, riwayat mengenai hal ini tidak tunggal. Ibnul Atsir dalam Asad al-Ghābah menyebut adanya perbedaan pendapat: ada yang mengatakan nama beliau sebelumnya Abd al-Ka‘bah, lalu diubah menjadi Abdullah; ada pula yang mengatakan keluarganya memang telah menamainya Abdullah.

Karena itu, ada dua hal yang perlu dibedakan:

* Nama beliau yang masyhur dalam kitab biografi: Abdullah.

* Riwayat tentang nama beliau sebelum Islam: terdapat perbedaan keterangan di kalangan penulis sejarah.

Inilah pentingnya membaca kitab secara utuh. Kita tidak hanya mengambil satu kalimat yang menarik, tetapi juga memperhatikan keterangan lain yang menyertainya.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil?

Mengenal nama Abdullah di balik sosok Abu Bakar bukan sekadar menambah wawasan sejarah. Ada pelajaran tentang bagaimana ilmu diwariskan.

Para ulama tidak hanya mencatat keutamaan seorang sahabat. Mereka juga meneliti nama, nasab, kunyah, gelar, dan berbagai riwayat tentang kehidupannya.

Dari empat redaksi kitab di atas, kita belajar bahwa membaca kitab kuning membutuhkan ketelitian. Terkadang, satu tokoh dikenal melalui beberapa sebutan, tetapi setiap sebutan mempunyai kedudukan dan latar belakangnya sendiri.

Dan ketika berbicara tentang Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, yang paling penting bukan hanya mengetahui nama beliau, melainkan juga mengenal ketulusan, keberanian, dan kesetiaannya mendampingi Rasulullah ﷺ.

Beliau adalah sahabat yang menemani Nabi dalam perjalanan hijrah, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an:

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” 
(QS. At-Taubah: 40).

Ayat ini mengingatkan kita pada sebuah momen agung dalam sejarah Islam: ketika Rasulullah ﷺ dan sahabatnya berada di dalam gua, keyakinan kepada pertolongan Allah tetap menjadi sandaran.

Nasehat Pendek 
“Nama seseorang mungkin kita kenal dari sebuah buku, tetapi kemuliaannya baru kita pahami ketika kita mempelajari perjalanan hidupnya.Abu Bakar bukan hanya nama yang tercatat dalam sejarah. Beliau adalah teladan tentang persahabatan yang tulus, iman yang kokoh, dan kesetiaan yang tidak berhenti ketika keadaan menjadi sulit, mari mulai menghafal nama-nama sahabat dan orang-orang karena hal ini juga dinilai ibadah, Li Hadhrati Sayyidana Abi Bakar Al Fatihah....”  
Kajian Ringan — Membaca kitab, merawat ilmu, meneladani ulama dan orang-orang saleh.

وصلى الله سبحانه وبحمده على سيدنامحمد الأمي و آله وصحبه أجمعين


Komentar

Postingan Populer