Bolehkah Makmum Membaca Rabbighfir lī Setelah Imam Selesai Membaca Al-Fātiḥah? Ini Penjelasan Ulama dalam Kitab Kuning

بــــــــسم الله الرحمن الرحيم,وبه نستعين الحمدلله وصلى الله سبحانه وبحمده على سيدنامحمد الأمي و آله وصحبه أجمعين


Tanya Jawab: Apa yang Dibaca Makmum Setelah Imam Menyelesaikan Al-Fātiḥah?

Pertanyaan:
Ketika imam selesai membaca Surah Al-Fātiḥah, sebagian orang membaca رَبِّ اغْفِرْ لِيْ (Rabbi-ghfir lī), sebelum mengucapkan āmīn. Apakah bacaan tersebut juga dianjurkan bagi makmum?

Jawaban ringkas :
Menurut keterangan yang dinukil dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin , bacaan رَبِّ اغْفِرْ لِيْ pada jeda antara akhir Al-Fātiḥah dan bacaan āmīn ditujukan kepada orang yang membaca Al-Fātiḥah, bukan kepada makmum. Adapun makmum, yang dituntut dalam keterangan tersebut adalah mengucapkan āmīn.
Pembahasan panjang
Lantas, bagaimana penjelasan ulama mengenai persoalan ini?, ada 5 poin yang mesti kita fahami sebagai berikut di bawah ini ! 

1 . Keterangan dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidīn

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidīn hal 45, terdapat keterangan yang dinisbatkan kepada Syarif al-‘Allāmah Ṭāhir bin Ḥusain sebagai berikut:

> (فائدة) قال الشريف العلامة طاهر بن حسين : لا يطلب من المأموم عند فراغ إمامه من الفاتحة قول رب اغفر لي، وإنما يطلب منه التأمين فقط، وقول ربي اغفر لي مطلوب من القارىء فقط في السكتة بين آخر الفاتحة وآمين اهـ.
Artinya:
“Faedah. Syarif al-‘Allāmah Ṭāhir bin Ḥusain berkata: Tidak dituntut bagi makmum untuk mengucapkan Rabbi-ghfir lī ketika imam selesai membaca Al-Fātiḥah. Yang dituntut dari makmum hanyalah membaca āmīn. Adapun ucapan Rabbi-ghfir lī, maka hal itu dituntut dari orang yang membaca Al-Fātiḥah saja, yakni pada jeda antara akhir Al-Fātiḥah dan bacaan āmīn.”

Keterangan ini memberikan perhatian pada dua hal: siapa yang membaca dan kapan bacaan itu ditempatkan. Sebab, dalam pembahasan ibadah, tidak cukup hanya mengetahui suatu bacaan yang baik, tetapi juga perlu memahami konteks dan kedudukan bacaan tersebut.

2. Mengapa Makmum Tidak Dituntut Membaca Rabbi-ghfir lī?

Mari kita perhatikan redaksi ulama tersebut.

Kalimat:
لَا يُطْلَبُ مِنَ الْمَأْمُومِ
Lā yuṭlabu mina al-ma’mūm — “Tidak dituntut dari makmum.”

Kemudian dilanjutkan dengan:

وَإِنَّمَا يُطْلَبُ مِنْهُ التَّأْمِينُ فَقَطْ
Wa innamā yuṭlabu minhu at-ta’mīn faqaṭ — “Yang dituntut darinya hanyalah membaca āmīn.”

Dari redaksi ini, dapat dipahami bahwa keterangan tersebut sedang menjelaskan bacaan yang dituntut bagi makmum pada keadaan yang dimaksud.

Namun, perlu dicermati bahwa ungkapan lā yuṭlabu tidak serta-merta berarti haram atau batal, apabila seseorang mengucapkannya. Untuk menetapkan hukum secara lebih terperinci, diperlukan penelaahan terhadap keseluruhan konteks pembahasan dan keterangan ulama fikih lainnya.

Dengan demikian, pembahasan ini bukan tentang buruk atau baiknya doa memohon ampun kepada Allah, melainkan tentang ketepatan menempatkan bacaan dalam rangkaian ibadah salat.

3. Lalu, Bagaimana dengan Bacaan Āmīn?

Bacaan āmīn setelah Surah Al-Fātiḥah memiliki dasar dalam hadis Nabi ﷺ.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ
«إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا»

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila imam mengucapkan āmīn, maka ucapkanlah āmīn.”

Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim, dalam pembahasan bacaan āmīn dalam salat.

Hadis ini menjadi salah satu landasan disyariatkannya bacaan āmīn dalam salat berjamaah. Adapun rincian waktu pengucapannya dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya dibahas lebih lanjut oleh para ulama fikih.

Karena itu, keterangan dalam Bughyatul Mustarsyidīn selaras dengan perhatian ulama terhadap bacaan yang memiliki tempat dan ketentuan masing-masing dalam salat.

4. Apakah Berarti Membaca Rabbi-ghfir lī Itu Tidak Baik?

Tentu, tidak demikian maksudnya.

Bacaan:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ
Rabbi-ghfir lī.
Artinya: “Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”

Memohon ampun kepada Allah swt , merupakan doa yang baik. Bahkan, permohonan ampun menjadi bagian penting dari kehidupan seorang hamba, yang menyadari kekurangan dan kesalahannya.

Akan tetapi, dalam ibadah yang tata caranya telah dijelaskan oleh syariat, ada perbedaan antara baiknya suatu bacaan secara umum dan anjuran membacanya pada waktu tertentu dalam ibadah tertentu.

Sebuah doa dapat memiliki makna yang baik, tetapi penempatan dan status anjurannya dalam salat tetap memerlukan keterangan dari para ulama,bukan atas dasar menurut saya ini baik atau ikut- ikutan.

Di sinilah pentingnya memahami ilmu fikih: maksud saya bukan untuk mempersempit ruang doa, melainkan agar ibadah dilaksanakan berdasarkan  dengan ilmu, ketenangan, dan mengikuti tuntunan yang dapat dipertanggungjawabkan.

5. Kesimpulan

  • Berdasarkan keterangan dalam Bughyatul Mustarsyidīn, ada beberapa hal yang dapat kita pahami:
  • Makmum tidak dituntut membaca Rabbi-ghfir lī setelah imam menyelesaikan Al-Fātiḥah dalam konteks yang dijelaskan oleh kutipan tersebut.
  • Bacaan yang dituntut bagi makmum dalam keterangan itu adalah āmīn.
  • Bacaan Rabbi-ghfir lī disebut sebagai bacaan bagi orang yang membaca Al-Fātiḥah pada jeda sebelum āmīn.
  • Keterangan tersebut tidak boleh langsung dipahami sebagai vonis haram terhadap orang yang membaca Rabbi-ghfir lī. Penetapan hukum yang lebih terperinci membutuhkan kajian lanjutan terhadap konteks kitab dan penjelasan ulama fikih.
  • Rujukan utama pembahasan ini adalah Bughyatul Mustarsyidīn, hlm. 45, disertai hadis tentang bacaan āmīn dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim.

Pada akhirnya, perbedaan dalam persoalan cabang fikih hendaknya menjadi ruang untuk menambah pemahaman dan perbendaharaan ilmu fikih , bukan alasan untuk saling menyalahkan. Jika ada bacaan yang selama ini kita lakukan, tidak perlu tergesa-gesa merasa bersalah; cukup pelajari kedudukannya, pahami penjelasan ulama, lalu amalkan ilmu dengan bijaksana.

 Pepatah 
“Tidak semua yang baik harus ditempatkan di setiap keadaan. Ilmu mengajarkan kita bukan hanya mengenal kebaikan, tetapi juga memahami di mana dan bagaimana kebaikan itu semestinya dilakukan.”

Samudra Kata | Kajian Ringan | Rakit | Penyusun A.Hikam.S


 اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد بعدد حروف كلام الله، وصل وسلم عليه وآله في أول الكلام وأوسطه وآخره،اللهم آته الوسيلة والفضيلة برحمتك ياأرحم الراحمين

Komentar

Postingan Populer