APAKAH SETANNYA BERBEDA? ๐Ÿ˜„



Apakah Ahlul Kufur Mengalahkan Ahlul Iman?

Berangkat dari narasi pada poster, muncul sebuah pertanyaan:

Jika kita melihat sebagian masyarakat non-Muslim begitu tertib, bersih, disiplin, dan amanah dalam urusan publik, sementara sebagian masyarakat Muslim masih bergelut dengan korupsi dan berbagai kemaksiatan, apakah Ahlul Kufur telah mengalahkan Ahlul Iman?

Mari kita melihatnya melalui sebuah perumpamaan.

Bayangkan ada dua pasangan suami istri.

Pasangan pertama: istrinya sangat menjaga kebersihan rumah. Halaman selalu rapi, lingkungan tertata. Ketika suaminya pulang, kopi hangat telah tersedia tanpa diminta. Ia disiplin dan sangat baik dalam berbagai urusan lahiriah.

Namun dalam perkara yang sangat prinsip—amanah dan kesetiaan kepada suaminya—ia justru melakukan pengkhianatan dengan membiarkan laki-laki lain masuk ke kamar pribadinya.

Pasangan kedua: istrinya kurang memperhatikan kebersihan rumah dan halaman. Banyak kekurangan dalam urusan lahiriah dan duniawi.

Namun dalam perkara amanah kepada suaminya, ia tetap menjaga kesetiaan dan tidak mengkhianatinya.

Lalu kita bertanya:

Apakah kebaikan pasangan pertama otomatis menghapus pengkhianatannya?

Tentu tidak.

Kebaikan dalam satu sisi tidak otomatis membatalkan kesalahan dalam sisi yang lain. Bahkan dalam perumpamaan ini, pengkhianatan terhadap amanah yang sangat mendasar dapat membuka jurang perpisahan yang sangat besar.

Lalu:

Apakah kesetiaan pasangan kedua otomatis menjadikan seluruh kekurangannya sebagai kebaikan?

Juga tidak.

Ia tetap memiliki banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Tetapi pintu perbaikan masih terbuka. Ia masih dapat mengakui kesalahannya, memperbaiki diri, dan kembali kepada jalan yang benar.

Begitulah—sebagai sebuah perumpamaan dalam pembahasan tauhid—kita dapat melihat perbedaan antara orang yang memiliki banyak kebaikan lahiriah tetapi tidak memiliki iman kepada Allah, dengan seorang Muslim yang memiliki iman namun masih bergelimang dosa dan kemaksiatan.

Namun tentu saja, perumpamaan ini bukan berarti setiap orang kafir identik dengan pasangan pertama dan setiap Muslim identik dengan pasangan kedua. Ini hanya gambaran untuk memahami satu prinsip.
Di sinilah tipu daya setan bekerja
Allah berfirman:
> ูˆَุฒَูŠَّู†َ ู„َู‡ُู…ُ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ُ ุฃَุนْู…َุงู„َู‡ُู…ْ
“Dan setan menjadikan amal-amal mereka terasa indah bagi mereka.”
— QS. an-Nahl: 63

Dan Allah berfirman:
> ุฃَูَู…َู† ุฒُูŠِّู†َ ู„َู‡ُ ุณُูˆุกُ ุนَู…َู„ِู‡ِ ูَุฑَุขู‡ُ ุญَุณَู†ًุง
“Maka apakah orang yang diperindah baginya keburukan amalnya sehingga dia memandangnya sebagai sesuatu yang baik...?”
— QS. Fฤแนญir: 8. 
Maka dalam kerangka renungan ini, setan tidak harus menggoda seseorang dengan sesuatu yang tampak buruk.

Kadang ia justru menghiasi kebaikan-kebaikan lahiriah sampai seseorang merasa:

> “Kami sudah baik.”
“Kami sudah berhasil.”
“Kami lebih maju.”
“Kami lebih beradab.”

Kemudian dari sana muncul kesimpulan yang jauh lebih berbahaya:

> “Kalau kami bisa mencapai semua ini tanpa iman dan tanpa Islam, berarti agama tidak diperlukan.”

Di sinilah kebaikan duniawi dapat berubah menjadi pintu kesombongan terhadap kebenaran.

Padahal keberhasilan dalam urusan dunia tidak otomatis menjadi bukti keselamatan di akhirat.

Tetapi setan juga memiliki pekerjaan lain terhadap Ahlul Iman

Terhadap seorang Muslim, setan tidak berhenti menggoda.

Ia bisa membisikkan:

> “Kamu sudah Muslim.”
“Kamu sudah punya agama yang benar.”
“Kamu punya kyai, ulama, pesantren, masjid dan majelis.”
“Tidak apa-apa sedikit bermaksiat.”


Akhirnya seseorang merasa aman karena identitasnya, sementara amalnya tidak kunjung diperbaiki.

Padahal Nabi ๏ทบ bersabda:

> ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุง ูŠَู†ْุธُุฑُ ุฅِู„َู‰ ุตُูˆَุฑِูƒُู…ْ ูˆَุฃَู…ْูˆَุงู„ِูƒُู…ْ، ูˆَู„َูƒِู†ْ ูŠَู†ْุธُุฑُ ุฅِู„َู‰ ู‚ُู„ُูˆุจِูƒُู…ْ ูˆَุฃَุนْู…َุงู„ِูƒُู…ْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
— HR. Muslim. 



Jadi sekadar identitas bukanlah tujuan akhir.

Iman harus melahirkan amal.


---

Di sinilah perbedaan yang sangat mendasar

Orang yang tidak beriman bisa saja memiliki:

kedisiplinan, kebersihan, kejujuran administratif, keteraturan, tanggung jawab sosial dan berbagai kebaikan duniawi.

Kita tidak perlu mengingkari semua itu.

Tetapi kebaikan tersebut tidak otomatis menjadikan kekufuran sebagai kebenaran.

Sebaliknya, seorang Muslim bisa saja memiliki iman tetapi melakukan banyak dosa.

Kita juga tidak boleh membenarkan dosa tersebut.

Namun selama ia tidak jatuh pada kekufuran dan kesyirikan, pintu taubat tetap terbuka.

Allah berfirman:

> ู‚ُู„ْ ูŠَุง ุนِุจَุงุฏِูŠَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฃَุณْุฑَูُูˆุง ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْูُุณِู‡ِู…ْ ู„َุง ุชَู‚ْู†َุทُูˆุง ู…ِู†ْ ุฑَุญْู…َุฉِ ุงู„ู„َّู‡ِ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
— QS. az-Zumar: 53. 



Sedangkan Allah berfirman:

> ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุง ูŠَุบْูِุฑُ ุฃَู†ْ ูŠُุดْุฑَูƒَ ุจِู‡ِ ูˆَูŠَุบْูِุฑُ ู…َุง ุฏُูˆู†َ ุฐَٰู„ِูƒَ ู„ِู…َู†ْ ูŠَุดَุงุกُ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
— QS. an-Nisฤ’: 48. 
Maksudnya adalah bagi orang yang bertemu Allah dalam keadaan syirik dan tidak bertaubat darinya. Adapun orang yang bertaubat sebelum mati, pintu ampunan Allah tetap terbuka. 
Maka, apakah Ahlul Kufur mengalahkan Ahlul Iman?

Tidak.

Yang mungkin kita lihat adalah:

> Mereka berhasil dalam sebagian urusan dunia, sementara kita gagal dalam sebagian urusan dunia yang sebenarnya juga diperintahkan oleh agama kita.
Itulah yang seharusnya membuat kita bermuhasabah, bukan merasa rendah diri terhadap kekufuran dan bukan pula menutup mata terhadap kenyataan.

Kalau mereka unggul dalam disiplin, amanah publik, kebersihan, administrasi dan keteraturan, kita akui keunggulan itu sebagai fakta.

Tetapi kita tidak kemudian mengatakan:

> “Karena mereka berhasil dalam dunia, maka kekufuran mereka benar.”
Sebaliknya, kita juga tidak mengatakan:
> “Karena kita memiliki Islam, maka semua yang kita lakukan pasti lebih baik.”
Tidak.
Islam adalah kebenaran, tetapi seorang Muslim masih mungkin jauh dari kesempurnaan dalam mengamalkan kebenaran tersebut.
Dan akhirnya kita kembali kepada pertanyaan pada poster:
> “Apakah setannya berbeda?” ๐Ÿ˜„
Tidak.
Setan tetap setan.
Kepada sebagian manusia, ia menghiasi keberhasilan duniawi hingga mereka merasa tidak membutuhkan hidayah.

Kepada sebagian Muslim, ia menghiasi identitas keislaman hingga mereka merasa tidak perlu memperbaiki amal.
Yang satu tertipu oleh:
> “Kami berhasil tanpa agama.”
Yang lain tertipu oleh:
> “Kami sudah punya agama, jadi kami sudah baik.”
Padahal seorang mukmin tidak cukup hanya memiliki ุงู„ุญู‚ّ—kebenaran yang diyakini.

Ia harus berusaha mewujudkannya dalam:

> ุงู„ุฅูŠู…ุงู† → ุงู„ุนู…ู„ → ุงู„ุฃู…ุงู†ุฉ → ุงู„ุนุฏู„ → ุงู„ุตู„ุงุญ

Iman → amal → amanah → keadilan → perbaikan.

Dan mungkin di situlah letak pelajaran terbesar dari satire ini:

> Jangan sampai kita iri kepada keberhasilan dunia orang lain hingga menganggap kekufuran mereka sebagai kebenaran.

Dan jangan pula kita bangga memiliki agama yang benar hingga lupa mengamalkannya.

**Sebab setan bisa menipu manusia melalui dua pintu: membuat yang batil tampak benar, dan membuat kita merasa sudah benar hanya karena mengetahui kebenaran.**

Komentar

Postingan Populer