Jika Syahwat Melahirkan Cinta kepada Wanita, Apakah yang Melahirkan Cinta kepada Allah? Inilah Pembagian Cinta Versi Al-Ghazali

بــــــــسم الله الرحمن الرحيم,وبه نستعين الحمدلله وصلى الله سبحانه وبحمده على سيدنامحمد الأمي و آله وصحبه أجمعين

Jawaban Singkat
Bila seseorang mencintai wanita karena syahwat, mencintai makanan karena kebutuhan, atau mencintai harta karena manfaatnya, lalu apa yang membuat seseorang mencintai Allah?

Menurut penjelasan para ulama, khususnya yang dapat dirumuskan dari pembahasan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Kitab al-Mahabbah, cinta tidak lahir dari satu sebab saja.

Secara sederhana, cinta dapat dibagi menjadi tiga:
1. Cinta karena manfaat (Mahabbah Naf'iyyah).
2. Cinta karena fitrah (Mahabbah Fithriyyah).
3. Cinta karena keutamaan dan kesempurnaan (Mahabbah Fadhliyyah).

Dan cinta kepada Allah berada pada tingkatan yang paling tinggi, karena Allah dicintai bukan sekadar karena manfaat-Nya, tetapi karena Dia adalah Pemilik seluruh kesempurnaan, keagungan, dan keindahan.

Uraian Panjangnya 
1. Mahabbah Naf'iyyah (Cinta Karena Manfaat)

Ini adalah cinta yang muncul karena seseorang mendapatkan manfaat dari sesuatu.

Contohnya:

Mencintai rumah.

Mencintai kendaraan.

Mencintai uang.

Mencintai pekerjaan.

Mencintai makanan dan minuman.


Imam Al-Ghazali berkata:

> فَالطَّعَامُ وَالشَّرَابُ مَحْبُوبٌ لِذَاتِهِ، وَالدَّنَانِيرُ مَحْبُوبَةٌ لِأَنَّهَا وَسِيلَةٌ إِلَى الطَّعَامِ
"Makanan dan minuman dicintai karena dirinya, sedangkan dinar dicintai karena menjadi sarana menuju makanan."

Beliau juga berkata:

> الْإِنْسَانُ عَبْدُ الْإِحْسَانِ
"Manusia adalah tawanan kebaikan."

Artinya, manusia cenderung mencintai siapa pun yang berbuat baik kepadanya.

Dalil Al-Qur'an

Allah berfirman:

> وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya manusia sangat kuat cintanya kepada harta." 
(QS. Al-'Adiyat: 8)

Karena harta memberi manfaat, manusia pun mencintainya.

Hakikatnya
Cinta jenis ini tidak tercela selama berada dalam batas syariat.

Masalah muncul ketika seseorang lebih mencintai manfaat dunia daripada Allah.

2. Mahabbah Fithriyyah (Cinta Karena Fitrah)

Ini adalah cinta yang Allah tanamkan dalam diri manusia.

Contohnya:

Cinta orang tua kepada anak.

Cinta anak kepada orang tua.

Cinta suami kepada istri.

Cinta kepada keluarga.


Allah berfirman:
> زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ
"Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada wanita dan anak-anak." 
(QS. Ali 'Imran: 14)

Perhatikan bahwa Allah tidak mencela keberadaan cinta tersebut. Yang dicela adalah bila cinta itu mengalahkan cinta kepada Allah.

Dalil Kitab Kuning
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sebagian cinta lahir karena kesesuaian tabiat manusia.
> فَكُلُّ شَيْءٍ يُوَافِقُ طَبْعَ الْإِنْسَانِ فَهُوَ مَحْبُوبٌ عِنْدَهُ
"Segala sesuatu yang sesuai dengan tabiat manusia akan dicintainya."

Karena itulah seorang ibu rela tidak tidur demi anaknya, meskipun tidak memperoleh keuntungan materi apa pun.

Hakikatnya
Cinta fitrah adalah anugerah Allah.
Namun cinta fitrah harus berada di bawah cinta kepada Allah.

Allah berfirman:
> وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
"Orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah." 
(QS. Al-Baqarah: 165)


3. Mahabbah Fadhliyyah (Cinta Karena Keutamaan dan Kesempurnaan)

Inilah tingkatan cinta yang paling tinggi.

Seseorang mencintai bukan karena manfaat pribadi dan bukan pula karena dorongan fitrah.

Ia mencintai karena melihat keagungan, kemuliaan, kesempurnaan, dan keindahan pihak yang dicintai.

Imam Al-Ghazali menjelaskan:
> الْجَمَالُ وَالْكَمَالُ مَحْبُوبَانِ بِالطَّبْعِ
"Keindahan dan kesempurnaan dicintai secara tabiat."

Beliau juga menjelaskan:

> إِنَّ الْجَمَالَ وَالْكَمَالَ مَحْبُوبَانِ لِذَاتِهِمَا
"Sesungguhnya keindahan dan kesempurnaan dicintai karena dirinya sendiri."

Contohnya

Cinta kepada Allah.

Cinta kepada Rasulullah Muhammad.

Cinta kepada para nabi.

Cinta kepada para sahabat.

Cinta kepada ulama.

Cinta kepada orang-orang saleh.

Mengapa?

Karena mereka memiliki kemuliaan yang membuat hati mencintai mereka.

Dalil Al-Qur'an

Allah berfirman:

> قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ ... أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
"Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu ... lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya..." 
(QS. At-Taubah: 24)

Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul harus berada di atas seluruh cinta lainnya,bahkan bisa dianggap fasilitas jika mahabbah dikalahkan oleh mahabbah Nafiyyah dan Fithriah 

Mengapa Allah Dicintai?

Karena seluruh kesempurnaan berasal dari Allah.

Karena seluruh nikmat berasal dari Allah.

Karena seluruh keindahan berasal dari Allah.

Karena seluruh kebaikan berasal dari Allah.

Maka puncak cinta adalah cinta kepada Allah.


Kesimpulan
Cinta manusia secara umum dapat dipahami dalam tiga tingkatan:

1. Mahabbah Naf'iyyah

Cinta karena manfaat.

Contoh:

Harta.

Rumah.

Kendaraan.

Makanan.


2. Mahabbah Fithriyyah

Cinta karena fitrah.

Contoh:

Orang tua.

Anak.

Pasangan.

Keluarga.


3. Mahabbah Fadhliyyah

Cinta karena kemuliaan dan kesempurnaan.

Contoh:

Allah.

Rasulullah.

Para nabi.

Ulama.

Orang-orang saleh.


Semakin tinggi sebab cintanya, semakin tinggi pula nilai cinta tersebut.

Dan puncak seluruh cinta adalah:

> وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
"Orang-orang beriman paling kuat cintanya kepada Allah."

Bagaimana Cara Memperoleh Ketiga Jenis Cinta Ini?

1. Cara Memperoleh Mahabbah Naf'iyyah

Kenali manfaat sesuatu.

Rasakan kebaikan yang diberikannya.

Syukuri nikmat yang diterima.


Karena manusia secara alami mencintai apa yang bermanfaat baginya.

2. Cara Memperoleh Mahabbah Fithriyyah

Perbanyak interaksi.

Perkuat silaturahmi.

Rawat hubungan keluarga.

Tunjukkan kasih sayang.


Semakin dekat hubungan, biasanya semakin kuat cinta fitrahnya.


3. Cara Memperoleh Mahabbah Fadhliyyah

Inilah yang paling penting.

Untuk mencintai Allah:

Mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Merenungi nikmat-nikmat Allah.

Membaca Al-Qur'an.

Memperbanyak zikir.

Mempelajari ilmu agama.
Karena seseorang tidak mungkin mencintai sesuatu yang tidak dikenalnya.
Sebagaimana para ulama berkata:
> مَنْ عَرَفَ اللَّهَ أَحَبَّهُ
"Barang siapa mengenal Allah, niscaya ia akan mencintai-Nya."

Semakin dalam ma'rifat seseorang kepada Allah, semakin besar pula mahabbahnya kepada Allah.

Dan ketika mahabbah kepada Allah telah menguasai hati, maka seluruh cinta yang lain akan mengikuti aturan yang Allah kehendaki.

Ahmad Hikam Suni 

 اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد بعدد حروف كلام الله، وصل وسلم عليه وآله في أول الكلام وأوسطه وآخره،اللهم آته الوسيلة والفضيلة برحمتك ياأرحم الراحمين

Komentar

Postingan Populer