Benarkah Hadits Bisa Menyesatkan? Memahami Maksud Ulama
بــــــــسم الله الرحمن الرحيم,وبه نستعين الحمدلله وصلى الله سبحانه وبحمده على سيدنامحمد الأمي و آله وصحبه أجمعين .أما بعد :
Sebagian orang - mungkin akan - terkejut ketika membaca sebuah ungkapan ulama:
«الأحاديث مُضِلَّةٌ إلا للفقهاء»
“Hadits-hadits bisa menyesatkan, kecuali bagi para fuqaha.”
Sekilas, kalimat ini terdengar berbahaya, bahkan seolah-olah merendahkan hadits Nabi ﷺ.
Padahal, jika dipahami dengan benar, maknanya sangat dalam dan penuh kehati-hatian.
Siapa yang Mengucapkan Kalimat Ini?
Ungkapan tersebut dinisbatkan kepada seorang ulama besar bernama:
سفيان الثوري رحمه الله
Beliau adalah:
Ulama hadits besar ، Ahli fiqh, Termasuk generasi tabi‘ut-tabi‘in
Artinya, orang yang mengucapkan kalimat ini bukan orang awam, bukan pula anti-hadits.
Justru beliau menghabiskan hidupnya untuk hadits.
Apakah Ungkapan Ini Hadits Nabi ﷺ?
❌ Bukan.
Kalimat ini bukan hadits, melainkan perkataan ulama (disebut atsar).
Ini penting agar kita tidak salah menempatkan kedudukannya.
Apa Maksud “Hadits Bisa Menyesatkan”?
Maksudnya bukan haditsnya yang salah, tetapi:
👉 cara memahami hadits yang bisa salah, jika dilakukan oleh orang yang tidak punya bekal ilmu fiqh.
Orang awam terkadang:
Membaca satu hadits , Langsung mengamalkannya
Tanpa tahu:
Apakah hadits itu umum atau khusus
Apakah sudah dihapus (mansūkh) atau belum
Apakah ada hadits lain yang membatasi
Bagaimana praktek para sahabat
Di sinilah bahaya itu muncul.
Lalu, Siapakah yang Dimaksud “Fuqahā’”?
Ini bagian yang sering disalahpahami.
Fuqahā’ (الفقهاء) bukan sekadar orang yang tahu banyak hadits,
dan bukan pula setiap ustaz atau penceramah.
Yang dimaksud fuqahā’ adalah:
✅ Ulama yang:
Menguasai Al-Qur’an dan hadits
Memahami cara menggabungkan dalil-dalil
Tahu:
Mana hadits umum, mana khusus
Mana yang mutlak, mana yang terikat
Mana yang diamalkan, mana yang ditinggalkan
Mengetahui praktek para sahabat dan ulama terdahulu
Singkatnya:
Fuqahā’ adalah ulama yang paham cara “memakai” hadits, bukan hanya membacanya.
Penjelasan dengan Bahasa Sederhana
Bayangkan hadits itu seperti obat keras.
Dokter tahu:, dosis,waktu,kondisi dan pasien.
Orang awam jika minum sembarangan:
• Bisa salah dosis
• Bisa salah waktu
• Bahkan bisa membahayakan diri sendiri,
JADI
➡️ Hadits itu obat
➡️ Fiqh itu ilmu cara memakainya
Ulama Lain Juga Mengingatkan Hal Serupa.
Bukan hanya Sufyān ats-Tsaurī.
Imam Mālik رحمه الله berkata:
«رُبَّ حديثٍ له وجهان»
“Banyak hadits memiliki lebih dari satu sisi pemahaman.”
Artinya, tidak semua hadits bisa dipahami secara lurus satu arah.
Imam Aḥmad رحمه الله berkata:
«الحديث إذا لم تُجمع طرقه لم تُفهم»
“Hadits tidak akan dipahami dengan benar sampai seluruh jalurnya dikumpulkan.”
Artinya, satu hadits tidak boleh berdiri sendirian.
Kesimpulan untuk Orang Awam
🔹 Hadits Nabi ﷺ selalu benar dan mulia.
🔹 Yang berbahaya adalah memahami hadits tanpa ilmu
🔹 Karena itu, ulama berkata:
«الأحاديث مُضِلَّةٌ إلا للفقهاء»
“Hadits-hadits bisa menyesatkan, kecuali bagi para fuqaha.”
Bukan untuk menjauhkan kita dari hadits, tetapi untuk mengajak kita rendah hati,berhati - hati , belajar dari ulama yang benar-benar paham fiqh,
dan tidak merasa cukup hanya dengan membaca terjemahan saja.
Penutup
Hadits bukan untuk ditinggalkan,
tetapi untuk dipahami dengan aman.
Dan jalan paling aman bagi orang awam adalah:
mengikuti penjelasan para ulama,
bukan menafsirkan sendiri.
Hikam
وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد بعدد حروف كلام الله، وآله في أول الكلام وأوسطه وآخره،اللهم آته الوسيلة والفضيلة برحمتك ياأرحم الراحمين

Komentar
Posting Komentar
Silahkan Tanggapi ! Bebas Sopan.....