Mungkinkah Komunitas Para Ulama Itu Berbohong
Pengajian Ke Dua
بــــــــسم الله الرحمن الرحيم، الحمدلله رب العلمين و به نستعين
Mungkinkah Golongan Para Ulama Sepanjang Zaman itu, Bersepakat Dalam Kebohongan?
Jawabannya: tidak mungkin. Dalam ajaran Islam, Allah telah menjamin bahwa umat ini ( yakni para jumhur ulama) tidak akan berkumpul ( bersekongkol ) di atas kesesatan secara umum. Apalagi jika yang dimaksud adalah para ulama yang menjadi penjaga ilmu agama.
Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ اللهَ لَا يجمعُ هَذِهِ الأمة على ضَلَالَةٍ أبدًا، وإنَّ يَدَ الله مَعَ الْجَمَاعَةِ، فَاتَّبِعُوا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ، فَإِنَّ مَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umat ini di atas kesesatan selamanya. Dan sesungguhnya tangan Allah bersama jamaah. Maka ikutilah kelompok terbesar, karena barang siapa menyendiri maka ia menyendiri di neraka.”
(HR. Ahmad, Abu Nu‘aim dan Al-Hakim)
Hadits ini menjadi dasar penting dalam Islam bahwa umat ini—terutama para ulama—tidak mungkin sepakat dalam kesesatan atau kebohongan.
Namun perlu dipahami dengan benar-benar:
yang dijaga oleh Allah adalah kesepakatan umat secara kolektif, bukan berarti setiap individu mereka selalu benar.
Di sinilah pentingnya memahami konsep ijma’ dalam Islam.
Ijma’ Dalam Tradisi Keilmuan Islam
Dalam ilmu ushul fiqh, ijma’ adalah kesepakatan para ulama mujtahid pada suatu masa terhadap suatu hukum syariat.
Ijma’ menempati posisi penting dalam Islam setelah Al-Qur’an dan Sunnah.
Imam Asy-Syafi’i berkata:
لَا يَجُوزُ أَنْ يُجْمِعَ عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى خَطَإٍ
“Tidak mungkin para ulama kaum muslimin bersepakat di atas kesalahan.”
Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mustashfa juga menegaskan:
أَمَّا الْإِجْمَاعُ فَهُوَ حُجَّةٌ قَاطِعَةٌ عِنْدَ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ
“Adapun ijma’, maka ia adalah hujjah yang pasti menurut mayoritas ulama.”
Demikian pula Imam Ibn Hazm berkata dalam kitab Al-Ihkam:
وَالْإِجْمَاعُ حَقٌّ لَا يَجُوزُ أَنْ تَجْتَمِعَ الْأُمَّةُ عَلَى ضَلَالَةٍ
“Ijma’ adalah kebenaran, dan tidak mungkin umat ini berkumpul di atas kesesatan.”
Karena itulah para ulama Ahlus Sunnah memandang bahwa ijma’ adalah salah satu bukti bentuk kongkrit penjagaan Allah terhadap agama ini.
Pertanyaanya -sekarang- "mengapa Ulama Mustahil Sepakat Dalam Kebohongan?
Jika kita melihat sejarah Islam dengan jujur, sebenarnya sangat sulit bahkan hampir mustahil para ulama bersepakat dalam kebohongan"
Ada beberapa alasan sederhana yang bisa dipahami.
1. Ulama Hidup di Tempat yang Berbeda
Para ulama sepanjang sejarah hidup di berbagai wilayah dunia.
Ada ulama di Makkah, Madinah, Baghdad, Damaskus, Mesir, Andalusia, India, hingga Nusantara.
Mereka hidup di zaman yang berbeda dan di tempat yang berjauhan.
Sebagian bahkan tidak pernah saling bertemu.
Secara logika saja sudah sangat sulit membayangkan bahwa mereka bisa bersekongkol dalam satu kebohongan yang sama.
2. Tradisi Ilmu Islam Sangat Ketat
Islam memiliki sistem keilmuan yang sangat kuat.
Dalam ilmu hadits misalnya, para ulama meneliti sanad, memeriksa kejujuran perawi, menguji hafalan, bahkan menelusuri kehidupan pribadi para perawi.
Jika ada atau terjadi kebohongan dalam ilmu agama, biasanya akan segera terbongkar.
Imam Al-Amidi berkata dalam kitab Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam:
اتَّفَقَ أَهْلُ الْحَقِّ عَلَى أَنَّ الْإِجْمَاعَ حُجَّةٌ قَاطِعَةٌ
“Ahlul Haq sepakat bahwa ijma’ adalah hujjah yang pasti.”
3. Ulama Sendiri Sering Berbeda Pendapat.
Jika kita mau membuka kitab-kitab fiqh klasik, kita akan menemukan banyak sekali perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Perbedaan ini justru menunjukkan bahwa betapa mereka sangat kritis.
Mereka tidak segan mengoreksi satu sama lain.
Karena itu, jika dalam banyak masalah mereka saja berbeda pendapat, maka tidak logis jika dikatakan mereka sepakat dalam kebohongan besar.
Imam Tajuddin As-Subki berkata dalam Jam'ul Jawami':
وَالْإِجْمَاعُ حُجَّةٌ قَاطِعَةٌ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ
“Ijma’ adalah hujjah yang pasti menurut Ahlus Sunnah.”
Tapi Apakah Ulama Bisa Salah?
Jawabannya: bisa.
Seorang ulama tetaplah manusia, tidak luput dari suatu kesalahan bahkan dosa, lemah,tidak sempurna,Ia bisa keliru dalam pendapatnya.
Bahkan dalam kenyataan kita juga melihat ada orang yang disebut ustadz tetapi ternyata tidak jujur.
Hal seperti ini memang mungkin terjadi.
Kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan tersebut, apalagi sampai menganggap ulama yang dikultuskannya Ga Mungkin Salah,
Namun -ingat- kesalahan individu tidak boleh dijadikan alasan untuk menuduh, bahwa seluruh ulama itu diklaim sebagai pembohong.
Itu cara berpikir yang tidak adil.
Kesalahan Sebagian Tidak Membatalkan Kepercayaan
Coba kita pikirkan dengan logika sederhana.
Jika ada seorang dokter yang melakukan kesalahan, apakah berarti semua dokter tidak bisa dipercaya?
Jika ada hakim yang korup, apakah semua hakim pasti korup?
Tentu tidak.
Begitu pula dengan ulama.
Kesalahan sebagian orang tidak boleh dijadikan alasan untuk meruntuhkan kepercayaan terhadap seluruh tradisi keilmuan Islam.
Imam An-Nawawi berkata:
أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْإِجْمَاعَ حُجَّةٌ
“Para ulama telah sepakat bahwa ijma’ adalah hujjah.”
Mengikuti Jamaah Ulama
Dalam hadits tadi Rasulullah ﷺ memerintahkan:
فَاتَّبِعُوا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ
“Ikutilah kelompok terbesar.”
Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah mengikuti jalan mayoritas ulama kaum muslimin.
Bukan pendapat para awam yang notabennya bukan kumpulan ulama.
Imam Asy-Syatibi dalam kitab Al-I'tisham menjelaskan:
فَالْجَمَاعَةُ هِيَ مَا كَانَ عَلَيْهِ أَهْلُ الْعِلْمِ
“Jamaah adalah jalan yang ditempuh oleh para ahli ilmu.”
Penutup
Maka kembali kepada pertanyaan di awal:
Mungkinkah para ulama sepanjang zaman bersepakat dalam kebohongan?
Jawabannya jelas: tidak mungkin.
Hadits Nabi ﷺ telah menegaskan bahwa Allah tidak akan mengumpulkan umat ini di atas kesesatan.
Tradisi keilmuan Islam yang sangat kuat juga menunjukkan bahwa kebohongan tidak mungkin bertahan lama dalam dunia ilmu.
Memang benar bahwa seorang ulama secara individu bisa saja salah atau bahkan berbohong.
Namun kesalahan individu tidak boleh dijadikan alasan untuk meruntuhkan kepercayaan terhadap seluruh komunitas ulama.
Sebaliknya, umat Islam justru diperintahkan untuk mengikuti jamaah ulama dan menjaga hubungan dengan tradisi ilmu yang telah diwariskan oleh generasi salaf.
Karena selama umat ini masih memiliki ulama yang jujur dan amanah, maka ilmu Islam akan tetap terjaga.
Dan itulah salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap agama-Nya.
Hikam
Catatan :
Ditulis: 05 September 2018
Diperbarui: 12 Maret 2026


Komentar
Posting Komentar
Silahkan Tanggapi ! Bebas Sopan.....